Senin, 05 Januari 2026

Nama:Farizh Harsya Fadhillah

NIM:41324010033

(AE 30)

Tugas Terstruktur 15





Di tengah harga energi yang naik-turun kayak grafik kripto, industri manufaktur lagi ada di posisi serba salah. Di satu sisi, produksi harus tetap jalan dan efisien. Di sisi lain, biaya energi terus naik, sementara tekanan global soal keberlanjutan makin kencang. Isu lingkungan, regulasi emisi, dan tuntutan pasar internasional bikin satu pertanyaan besar muncul: masih relevankah bergantung penuh pada energi konvensional?

Di sinilah konsep energi terbarukan mandiri mulai jadi bahan obrolan serius. Bukan sekadar jargon hijau atau pencitraan, tetapi strategi bisnis yang semakin rasional dan relevan untuk masa depan industri manufaktur.

Industri Manufaktur dan Ketergantungan Energi

Industri manufaktur merupakan salah satu sektor dengan konsumsi energi terbesar. Listrik dan bahan bakar fosil menjadi penopang utama dalam pengoperasian mesin, sistem produksi, hingga distribusi. Ketergantungan ini membuat biaya operasional sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi global. Ketika harga energi naik, margin keuntungan langsung tertekan. Ketika pasokan terganggu, proses produksi pun ikut terdampak.

Selain faktor biaya, tekanan eksternal juga semakin kuat. Regulasi lingkungan diperketat, standar ekspor makin tinggi, dan konsumen mulai mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam memilih produk. Kondisi ini membuat industri manufaktur tidak lagi bisa mengabaikan isu energi.

Energi Terbarukan Mandiri sebagai Alternatif Strategis

Energi terbarukan mandiri mengacu pada kemampuan industri untuk menghasilkan energi sendiri dari sumber terbarukan, seperti tenaga surya, angin, biomassa, atau sistem hybrid. Panel surya di atap pabrik, pemanfaatan limbah produksi sebagai biomassa, hingga turbin angin skala kecil mulai banyak dilirik sebagai solusi jangka panjang.

[Inference] Perkembangan teknologi dan penurunan biaya instalasi membuat energi terbarukan lebih mudah diakses dibandingkan satu dekade lalu. Hal ini menjadikan investasi energi terbarukan semakin masuk akal secara ekonomi, terutama untuk kebutuhan jangka panjang.

Efisiensi Biaya sebagai Daya Tarik Utama

Alasan paling kuat di balik adopsi energi terbarukan mandiri adalah efisiensi biaya. Dengan memproduksi energi sendiri, ketergantungan terhadap pasokan energi eksternal dapat dikurangi. Hal ini berdampak langsung pada stabilitas biaya operasional.

Manfaat lain yang ikut muncul antara lain:

  • Biaya energi yang lebih terkendali dalam jangka panjang

  • Pengurangan risiko kenaikan tarif listrik

  • Pemanfaatan limbah produksi sebagai sumber energi tambahan

  • Peluang memperoleh insentif atau kemudahan regulasi terkait energi bersih

[Speculation] Dalam jangka menengah hingga panjang, industri yang mengadopsi energi terbarukan mandiri berpotensi memiliki struktur biaya yang lebih kompetitif dibandingkan industri yang sepenuhnya bergantung pada energi fosil.

Peran Teknologi Digital dalam Pengelolaan Energi

Transformasi energi di sektor manufaktur tidak lepas dari dukungan teknologi digital. Penerapan Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) memungkinkan pemantauan konsumsi energi secara real-time. Data yang dikumpulkan dapat digunakan untuk mengoptimalkan distribusi energi, memprediksi kebutuhan daya, dan mengurangi pemborosan.

[Inference] Pola penerapan teknologi industri menunjukkan bahwa sistem manajemen energi berbasis data membantu meningkatkan efisiensi operasional, meskipun hasilnya sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur dan kualitas data yang digunakan.

Tantangan dalam Implementasi Energi Terbarukan Mandiri

Meskipun menawarkan banyak keuntungan, penerapan energi terbarukan mandiri tetap menghadapi sejumlah tantangan. Investasi awal yang relatif besar masih menjadi hambatan, terutama bagi industri skala menengah. Selain itu, potensi sumber energi terbarukan sangat bergantung pada kondisi geografis dan lingkungan sekitar.

Kesiapan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting. Transisi menuju sistem energi baru membutuhkan tenaga kerja yang memahami teknologi, mulai dari tahap perencanaan hingga pemeliharaan.

Strategi Adaptasi yang Realistis

Agar transisi energi berjalan efektif, industri manufaktur dapat menerapkan beberapa strategi adaptasi, seperti:

  • Melakukan audit energi untuk mengidentifikasi potensi efisiensi

  • Menerapkan sistem energi terbarukan secara bertahap

  • Menjalin kerja sama dengan penyedia teknologi dan lembaga riset

  • Meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui pelatihan

Pendekatan bertahap memungkinkan industri beradaptasi tanpa mengganggu stabilitas operasional.

Dampak Jangka Panjang bagi Daya Saing Industri

Energi terbarukan mandiri tidak hanya berdampak pada efisiensi biaya, tetapi juga memperkuat posisi industri dalam persaingan global. Industri yang mampu menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan cenderung lebih dipercaya oleh mitra internasional dan investor.

[Inference] Berdasarkan tren pasar global, keberlanjutan semakin dipandang sebagai nilai strategis yang berkontribusi pada ketahanan bisnis jangka panjang.

Penutup

Energi terbarukan mandiri bukan lagi konsep idealistis yang sulit diterapkan. Bagi industri manufaktur, ini adalah langkah strategis untuk menghadapi dinamika biaya energi, tuntutan lingkungan, dan perubahan pasar global. Meskipun membutuhkan investasi dan kesiapan teknologi, pendekatan ini menawarkan peluang efisiensi dan daya saing yang signifikan.

Bagi pelaku usaha dan calon wirausahawan di sektor industri, masa depan bisnis tidak hanya ditentukan oleh kecepatan produksi, tetapi juga oleh kecerdasan dalam mengelola energi. Dan dalam konteks bisnis modern, kecerdasan tersebut sering kali berujung pada efisiensi.

Referensi

  1. International Energy Agency (IEA). Renewables 2023: Analysis and Forecasts.

  2. World Economic Forum. The Future of Energy in Manufacturing Industries.

  3. Porter, M. E., & Kramer, M. R. (2019). Creating Shared Value. Harvard Business Review.


Nama:Farizh Harsya Fadhillah

NIM:41324010033

(AE 30)

Tugas Mandiri 15




Perkembangan teknologi digital telah mendorong perubahan besar dalam ekosistem kewirausahaan global, termasuk di bidang teknik. Inovasi seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan komputasi awan tidak hanya dimanfaatkan oleh perusahaan berskala besar, tetapi juga mulai diadopsi oleh usaha kecil dan menengah. Kondisi ini membuka peluang baru bagi kewirausahaan berbasis teknik yang berfokus pada efisiensi, otomasi, dan pengolahan data teknis secara cerdas.

Salah satu tren global yang paling menonjol adalah pemanfaatan AI dan IoT untuk optimalisasi sistem teknik dan industri. Tren ini berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan akan efisiensi energi, keandalan mesin, serta pengurangan biaya operasional. Sistem teknik modern kini bergerak menuju konsep smart system, yaitu sistem yang mampu memantau kondisi operasional secara real-time, menganalisis data, serta memberikan rekomendasi atau tindakan otomatis berdasarkan hasil analisis tersebut.

Berbagai laporan global menunjukkan bahwa adopsi teknologi AI dan digitalisasi industri terus meningkat, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Transformasi digital di sektor manufaktur dan teknik skala kecil menjadi semakin relevan karena mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa teknologi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan strategis dalam pengembangan usaha berbasis teknik.

Berdasarkan tren tersebut, peluang bisnis digital yang dapat dikembangkan di bidang teknik adalah jasa monitoring dan optimasi sistem teknik berbasis AI dan IoT untuk industri skala kecil. Banyak bengkel manufaktur, workshop teknik, dan industri rumahan masih mengandalkan pemantauan manual terhadap mesin dan konsumsi energi. Hal ini sering menyebabkan kerusakan mesin yang terlambat terdeteksi, pemborosan energi, serta biaya perawatan yang tidak efisien.

Solusi yang ditawarkan melalui peluang bisnis ini adalah penerapan sensor IoT sederhana yang terhubung dengan sistem analisis berbasis AI. Sistem tersebut dapat memantau performa mesin, mendeteksi potensi kerusakan sejak dini, serta memberikan rekomendasi perawatan dan efisiensi energi. Dengan pendekatan ini, pelaku industri kecil dapat meningkatkan keandalan sistem teknik tanpa harus melakukan investasi besar pada teknologi yang kompleks.

Target pasar dari peluang usaha ini adalah industri kecil dan menengah berbasis teknik, seperti bengkel manufaktur, workshop mesin, serta usaha produksi rumahan yang menggunakan peralatan mekanik atau listrik secara intensif. Segmen ini memiliki kebutuhan nyata akan solusi teknis yang praktis, terjangkau, dan mudah diimplementasikan.

Strategi adaptasi usaha ini dapat dilakukan dengan modal minimal melalui pemanfaatan alat-alat digital yang tersedia saat ini. Penggunaan platform cloud computing berbiaya rendah, sensor IoT yang terjangkau, serta AI berbasis API atau low-code memungkinkan pengembangan layanan tanpa harus membangun sistem dari awal. Promosi dan pemasaran jasa juga dapat dilakukan secara digital melalui website sederhana dan media sosial.

Dengan menggabungkan keahlian teknik dan pemanfaatan teknologi digital, peluang kewirausahaan ini memiliki potensi besar untuk berkembang, khususnya dalam mendukung transformasi digital industri kecil di tingkat lokal. Tren global yang ada dapat diadaptasi secara kontekstual untuk menjawab permasalahan nyata di lingkungan sekitar.

Daftar Referensi
Gartner – Top Strategic Technology Trends
Deloitte – Global Entrepreneurship and Technology Reports
Google & Temasek – e-Conomy SEA Report
Forbes – Global Business and Technology Trends


Nama:Farizh Harsya Fadhillah

NIM:41324010033

(AE 30)

Tugas Terstruktur 14


Pendahuluan

Pertumbuhan usaha di bidang teknik tidak dapat dilepaskan dari kemampuan dalam mengelola sistem produksi, sumber daya manusia, serta strategi pasar secara terintegrasi. Ketika sebuah usaha telah melewati fase awal dan memiliki produk yang stabil serta pelanggan rutin, tantangan berikutnya adalah melakukan scale-up secara terencana dan berkelanjutan.

Scale-up bukan sekadar meningkatkan volume produksi, tetapi merupakan proses transformasi menyeluruh yang mencakup aspek operasional, manajerial, finansial, dan pengukuran kinerja. Tulisan ini menyajikan sebuah scale-up blueprint untuk usaha di bidang teknik sebagai kerangka strategis dalam menghadapi fase pertumbuhan.

Analisis Kesiapan Usaha (Audit Pertumbuhan)

Profil Usaha

PT Rekayasa Presisi Nusantara merupakan usaha teknik manufaktur yang bergerak di bidang jasa fabrikasi komponen mesin dan pembuatan custom part berbasis teknologi CNC machining. Target pasar utama usaha ini adalah industri manufaktur skala kecil hingga menengah, khususnya di sektor otomotif, agrikultur, dan peralatan industri.

Berdasarkan model siklus hidup bisnis Churchill & Lewis, usaha ini berada pada tahap Success–Growth. Kondisi tersebut ditandai dengan produk yang telah terstandarisasi, adanya pelanggan B2B dengan pemesanan berulang, serta arus kas yang relatif stabil meskipun kapasitas produksi masih terbatas.

Bukti Product–Market Fit

Kesesuaian produk dengan kebutuhan pasar ditunjukkan melalui adanya permintaan berulang dari klien industri, tingkat komplain dan retur produk yang rendah, serta meningkatnya kebutuhan komponen dengan spesifikasi presisi tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa produk yang dihasilkan tidak hanya diterima pasar, tetapi juga dipercaya dari sisi kualitas teknik.

Identifikasi Hambatan Pertumbuhan

Beberapa faktor yang menghambat pertumbuhan usaha antara lain keterbatasan kapasitas mesin produksi, proses perencanaan dan pencatatan produksi yang masih dilakukan secara manual, serta belum adanya pemisahan peran yang jelas antara fungsi teknis dan manajerial. Kondisi ini berpotensi menurunkan efisiensi dan membatasi kemampuan usaha untuk memenuhi permintaan yang lebih besar.

Strategi Scale-Up Operasional

Standardisasi dan Otomatisasi

Strategi operasional difokuskan pada penyusunan SOP teknis untuk proses machining, quality control, dan perawatan mesin. Selain itu, usaha direncanakan untuk mengadopsi sistem ERP manufaktur sederhana guna mengintegrasikan penjadwalan produksi, pengelolaan inventory bahan baku, serta monitoring kinerja harian.

Digitalisasi data teknis dan spesifikasi produk dilakukan untuk meningkatkan akurasi, konsistensi, dan kecepatan pengambilan keputusan operasional.

Penguatan Sumber Daya Manusia

Untuk mendukung pertumbuhan skala besar, diperlukan penambahan posisi strategis, yaitu Manajer Operasional Teknik yang bertanggung jawab atas efisiensi produksi, Engineer Quality Control untuk menjaga standar mutu, serta Sales Engineer yang berperan sebagai penghubung antara kebutuhan teknis klien dan solusi produk.

Struktur ini memungkinkan pemisahan fungsi teknis, komersial, dan manajerial secara profesional.

Strategi Pasar dan Pendanaan

Arah Ekspansi Pasar

Strategi ekspansi difokuskan pada penetrasi pasar industri baru, seperti sektor energi terbarukan dan peralatan pertanian modern. Pendekatan dilakukan melalui penyesuaian desain komponen dan spesifikasi teknik agar sesuai dengan kebutuhan masing-masing sektor.


Perencanaan Pendanaan

Kebutuhan pendanaan dialokasikan untuk penambahan mesin produksi, implementasi sistem digital, serta penguatan sumber daya manusia. Sumber pendanaan berasal dari laba ditahan, pinjaman bank produktif untuk aset mesin, serta potensi kerja sama dengan investor strategis di sektor industri.

Pendanaan difokuskan pada investasi aset produktif yang mampu meningkatkan kapasitas dan efisiensi usaha.

Metrik Pertumbuhan (Growth Dashboard)

North Star Metric

Indikator utama pertumbuhan ditetapkan berupa jumlah order produksi B2B per bulan. Metrik ini mencerminkan tingkat permintaan pasar sekaligus utilisasi kapasitas produksi.

Unit Economics

Evaluasi kinerja finansial dilakukan melalui perbandingan biaya akuisisi pelanggan (Customer Acquisition Cost) dengan nilai pelanggan jangka panjang (Lifetime Value). Rasio LTV yang lebih besar dibandingkan CAC menjadi indikator keberlanjutan strategi scale-up.

Burn Rate dan Runway

Apabila usaha menggunakan pendanaan eksternal, pengendalian burn rate menjadi penting untuk menjaga stabilitas operasional. Target runway direncanakan berada pada rentang 12 hingga 18 bulan, sehingga memberikan ruang yang cukup untuk mencapai peningkatan pendapatan yang stabil.

Penutup

Scale-up usaha di bidang teknik membutuhkan pendekatan yang terstruktur dan berbasis sistem. Melalui standardisasi proses, penguatan sumber daya manusia, strategi pendanaan yang tepat, serta pengukuran kinerja yang jelas, pertumbuhan usaha dapat dicapai secara berkelanjutan.

Blueprint ini menunjukkan bahwa keberhasilan scale-up tidak hanya ditentukan oleh peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga oleh kemampuan dalam membangun sistem teknik dan manajerial yang solid. Growth itu bukan asal cepat—yang penting tetap presisi.


Sabtu, 03 Januari 2026

Nama:Farizh Harsya Fadhillah

NIM:41324010033

(AE 30)

Tugas Mandiri 14




Pendahuluan

Dalam dunia teknik, scale-up itu bukan cuma soal “bisnis makin gede”, tapi soal sistem yang tetap stabil walau bebannya naik gila-gilaan. Gojek jadi contoh menarik karena pertumbuhannya bukan sekadar viral, tapi ditopang rekayasa sistem, optimasi proses, dan pengambilan keputusan berbasis data. Singkatnya: ini bukan hoki, ini engineering mindset yang kerja.

A. Fase Transisi (The Turning Point)

Transisi Gojek dari fase survival ke scale-up terjadi ketika platform ini bergeser dari layanan ride-hailing sederhana menjadi super-app berbasis teknologi.

Indikator utama transisi:

  • Ekspansi layanan dari GoRide ke GoFood, GoSend, dan pembayaran digital.

  • Lonjakan volume transaksi harian yang memaksa sistem backend untuk diskalakan.

  • Masuknya pendanaan tahap lanjut yang memungkinkan investasi besar di infrastruktur teknologi.

Dari kacamata teknik, titik balik ini terjadi saat arsitektur sistem harus diubah: dari sistem kecil yang “cukup jalan” menjadi sistem terdistribusi yang harus tahan error, low latency, dan scalable. Kalau backend-nya lemah, ceritanya tamat.

B. Strategi Penggerak Skala (The Scale Drivers)

1. Inovasi Teknologi

Gojek mengandalkan:

  • Cloud computing & microservices untuk menangani jutaan request per hari.

  • Algoritma dispatch & routing untuk efisiensi driver dan waktu tunggu.

  • Data engineering & machine learning untuk prediksi permintaan dan dynamic pricing.

Dari sudut pandang teknik industri dan informatika: ini soal optimasi sistem kompleks secara real-time. Kalau salah tuning dikit, biaya bisa bocor ke mana-mana.

2. Model Bisnis

Model bisnis Gojek berevolusi dari satu layanan ke ekosistem terintegrasi. Ini mirip sistem modular dalam teknik: tiap modul berdiri sendiri, tapi saling memperkuat. Efeknya? Switching cost pengguna tinggi dan utilisasi sistem makin efisien.

3. Manajemen SDM (Engineering Culture)

Skala tim teknik diperbesar dengan:

  • Pembagian tim berbasis produk & layanan.

  • Standarisasi proses engineering (CI/CD, code review, SRE).

  • Fokus pada reliability dan keamanan sistem.

Ini mirip proyek rekayasa besar: tanpa struktur, chaos. Dengan struktur, sistem bisa tumbuh tanpa ambruk.


C. Analisis Metrik & Pendanaan

[Saya tidak dapat memverifikasi angka spesifik.]
Namun secara umum:

  • Pendanaan digunakan untuk penguatan infrastruktur, bukan sekadar marketing.

  • Fokus pada unit economics, seperti efisiensi biaya akuisisi pengguna dan optimalisasi insentif driver.

Dari perspektif teknik, ini setara dengan analisis efisiensi energi: output maksimum dengan input minimum. Kalau rugi terus, berarti desain sistemnya belum optimal.


D. Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)

Keputusan Paling Berisiko tapi Berhasil

Mengembangkan banyak layanan sekaligus dalam satu platform. Risiko utamanya: kompleksitas sistem meningkat drastis. Tapi dengan pendekatan rekayasa sistem yang tepat, kompleksitas itu justru jadi keunggulan.

Menjaga Identitas di Tengah Pertumbuhan

Gojek tetap mempertahankan budaya problem-solving dan fokus pada dampak sosial. Dalam istilah teknik: fungsi utama sistem tidak diubah, hanya kapasitasnya yang ditingkatkan.


Kesimpulan Pribadi (Sudut Pandang Teknik)

Menurut saya, pertumbuhan Gojek relatif berkelanjutan selama:

  • Sistem teknologinya terus dioptimasi.

  • Keputusan bisnis tetap berbasis data dan analisis teknis, bukan intuisi semata.

Kalau engineering-nya kendor, burnout sistem bisa terjadi. Tapi selama prinsip rekayasa masih dipegang, scale-up ini bukan balon—ini struktur baja.



Nama:Farizh Harsya Fadhillah

NIM:41324010033

(AE 30)

Tugas Terstruktur 13




Pendahuluan

Perkembangan dunia usaha dan industri yang semakin cepat menuntut peran kampus tidak hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai pusat penciptaan wirausaha baru. Kampus memiliki posisi strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang inovatif, kreatif, dan mampu menciptakan lapangan kerja secara mandiri.

Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan sebuah rancangan strategis yang terarah dan berkelanjutan dalam membangun ekosistem kewirausahaan kampus. Tulisan ini menyajikan sebuah blueprint pengembangan kampus sebagai pusat kewirausahaan yang mencakup pembibitan ide, fasilitasi pengembangan usaha, hingga proses hilirisasi produk dan bisnis mahasiswa.

Bab I: Analisis Situasi (Environmental Scanning)

Potensi dan Karakteristik Kampus

Setiap kampus memiliki potensi unik yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan kewirausahaan. Kampus dengan basis keilmuan tertentu, seperti pertanian, teknik, atau ekonomi, memiliki peluang besar untuk mengembangkan wirausaha berbasis keunggulan tersebut. Pemanfaatan sumber daya akademik, laboratorium, serta jejaring riset menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang relevan dengan kebutuhan pasar.

Analisis SWOT Ekosistem Kewirausahaan

Analisis kondisi internal dan eksternal dilakukan untuk memetakan kesiapan kampus dalam mengembangkan kewirausahaan:

  • Strength: Ketersediaan sumber daya manusia terdidik, fasilitas akademik, dan lingkungan intelektual.

  • Weakness: Terbatasnya akses modal awal dan pengalaman praktis berwirausaha.

  • Opportunity: Dukungan kebijakan MBKM, peluang pendanaan hibah, serta kebutuhan pasar lokal.

  • Threat: Persaingan bisnis yang tinggi dan rendahnya keberlanjutan usaha rintisan.

Hasil analisis ini menjadi dasar perancangan program yang realistis dan berorientasi pada keberlanjutan.

Bab II: Desain Program Utama

Tahap Inisiasi

Tahap inisiasi bertujuan menumbuhkan minat dan kesadaran kewirausahaan melalui:

  • Sosialisasi dan seminar kewirausahaan

  • Kegiatan motivasi bersama praktisi dan alumni

  • Kompetisi ide bisnis di tingkat program studi dan fakultas

Tahap ini diarahkan untuk mendorong munculnya ide-ide bisnis yang potensial dan kontekstual.

Tahap Fasilitasi

Pada tahap ini, ide bisnis yang terpilih difasilitasi melalui:

  • Kurikulum kewirausahaan terintegrasi dengan program MBKM

  • Konversi kegiatan bisnis menjadi satuan kredit semester (SKS)

  • Pelatihan penyusunan model bisnis, manajemen keuangan, dan pemasaran digital

Tahap fasilitasi berfungsi sebagai jembatan antara konsep akademik dan praktik usaha nyata.

Tahap Akselerasi

Tahap akselerasi diwujudkan melalui pembentukan Inkubator Bisnis Kampus yang menyediakan:

  • Pendampingan mentor dari akademisi dan praktisi

  • Akses ruang kerja bersama dan fasilitas produksi

  • Layanan pendukung seperti legalitas usaha dan pengembangan merek

Tahap ini difokuskan pada penguatan bisnis agar siap bersaing di pasar.

Bab III: Strategi Kemitraan dan Pendanaan

Strategi Kemitraan

Penguatan ekosistem kewirausahaan dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, antara lain:

  • Investor dan lembaga perbankan

  • Dunia industri dan pelaku UMKM

  • Alumni sebagai mentor dan pendukung pendanaan awal

Kemitraan ini membuka akses terhadap modal, pasar, dan pengalaman praktis.

Mekanisme Pendanaan

Pendanaan usaha mahasiswa dikelola melalui:

  • Program hibah internal berbasis seleksi proposal bisnis

  • Monitoring dan evaluasi perkembangan usaha secara berkala

  • Skema pendanaan lanjutan bagi usaha yang menunjukkan kinerja positif

Pengelolaan dana dilakukan secara transparan dan akuntabel.


Bab IV: Roadmap dan Key Performance Indicators (KPI)

Roadmap Pelaksanaan Program

Pelaksanaan program dirancang selama satu tahun akademik dengan tahapan:

  • Semester pertama: Sosialisasi, pengembangan ide, dan pembelajaran kewirausahaan

  • Semester kedua: Inkubasi, pendampingan intensif, dan uji pasar produk

Indikator Kinerja Utama

Keberhasilan program diukur melalui indikator yang terukur, antara lain:

  • Jumlah usaha rintisan yang terbentuk

  • Jumlah produk yang memperoleh sertifikasi (Halal, PIRT, atau HKI)

  • Tingkat keberlanjutan usaha setelah masa inkubasi

Penutup

Blueprint pengembangan ekosistem kewirausahaan kampus ini dirancang sebagai panduan strategis dalam menciptakan lingkungan kampus yang produktif dan inovatif. Dengan dukungan program yang terintegrasi, kampus diharapkan mampu melahirkan wirausaha muda yang mandiri, berdaya saing, dan berkontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi.

Singkatnya: kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat lahirnya pelaku usaha masa depan.


Nama:Farizh Harsya Fadhillah

NIM:41324010033

(AE 30)

Tugas Mandiri 13




     Di era sekarang, jadi wirausaha itu nggak cukup modal nekat dan ide doang. Ekosistem pendukung mulai dari pelatihan, legalitas, sampai jejaring—punya peran krusial, apalagi bagi calon wirausaha dari bidang teknik yang identik dengan produk berbasis teknologi dan inovasi.

Tulisan ini membahas salah satu lembaga fasilitator kewirausahaan yang berperan aktif mendukung pelaku usaha pemula, khususnya yang berada di wilayah DKI Jakarta, yaitu Jakarta Entrepreneur (Jakpreneur).

A. Identitas Lembaga

Nama Lembaga:
Jakarta Entrepreneur (Jakpreneur)

Deskripsi Singkat:

Jakpreneur merupakan program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) yang bertujuan membangun ekosistem kewirausahaan terintegrasi bagi pelaku UMKM dan wirausaha baru.

Status Lembaga:
Lembaga Pemerintah Daerah (Provinsi)

Alamat & Kanal Komunikasi:

B. Inventarisasi Layanan (Services Offered)

Jakpreneur berfungsi sebagai hub yang menghubungkan pelaku usaha dengan berbagai fasilitas pendukung. Layanan utama yang ditawarkan antara lain:

  1. Pendaftaran dan Pendataan Pelaku Usaha
    Calon wirausaha dapat mendaftarkan diri sebagai pelaku UMKM melalui sistem yang disediakan untuk mendapatkan akses ke berbagai program pembinaan.

  2. Pelatihan dan Pendampingan Usaha
    Tersedia pelatihan kewirausahaan, pengembangan bisnis, pemasaran digital, serta peningkatan kapasitas usaha yang relevan dengan kebutuhan wirausaha pemula.

  3. Digitalisasi UMKM
    Program pendukung transformasi digital, seperti pengenalan platform digital, pemasaran online, dan pemanfaatan teknologi dalam operasional usaha.

  4. Jejaring dan Kolaborasi
    Jakpreneur menghubungkan pelaku usaha dengan komunitas, mentor, dan mitra strategis yang dapat mendukung pengembangan bisnis jangka panjang.

  5. Fasilitasi Layanan Usaha
    Termasuk pendampingan legalitas dasar usaha (misalnya NIB) melalui program-program yang terintegrasi dengan dinas terkait.

C. Analisis Aksesibilitas

Dari sisi akses, Jakpreneur relatif terbuka bagi wirausaha pemula.

  • Prosedur Akses:
    Pendaftaran dilakukan secara daring melalui website resmi Jakpreneur dengan melengkapi data identitas dan informasi usaha.

  • Persyaratan:
    Berdasarkan informasi publik, tidak disebutkan keharusan memiliki omzet tertentu, sehingga relatif ramah bagi usaha rintisan dan pemula.

  • Akses bagi Latar Belakang Teknik:
    Layanan pelatihan dan digitalisasi cukup relevan bagi calon wirausaha bidang teknik, terutama yang mengembangkan produk teknologi, alat, atau solusi berbasis rekayasa.

D. Penilaian Kritis (Refleksi)

Kelebihan

  • Program bersifat inklusif dan terbuka bagi wirausaha pemula.

  • Fokus pada penguatan ekosistem dan digitalisasi usaha.

  • Didukung oleh pemerintah daerah sehingga memiliki jaringan lintas sektor.

Kekurangan

  • Informasi mengenai akses pendanaan langsung tidak dijelaskan secara spesifik dalam program Jakpreneur.

  • Beberapa program lanjutan berpotensi memiliki kuota atau seleksi tertentu.

Relevansi bagi Calon Wirausaha Teknik

Jika memiliki ide bisnis berbasis teknik—misalnya produk inovatif, alat tepat guna, atau solusi teknologi—layanan yang paling dibutuhkan dari Jakpreneur adalah:

  • pelatihan pengembangan dan pemasaran produk,

  • pendampingan legalitas usaha, dan

  • jejaring kolaborasi untuk pengembangan dan validasi produk.

Penutup

Keberadaan Jakarta Entrepreneur (Jakpreneur) menunjukkan bahwa ekosistem pendukung wirausaha di tingkat daerah memiliki peran strategis dalam mendorong lahirnya pelaku usaha baru, termasuk dari bidang teknik. Dengan memanfaatkan layanan yang tersedia secara optimal, calon wirausaha dapat mengurangi hambatan awal dalam memulai dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Referensi:


Nama:Farizh Harsya Fadhillah

NIM:41324010033

(AE 30)

Tugas Terstruktur 12


Identifikasi Masalah dan Peluang

Salah satu permasalahan lingkungan yang semakin mendesak adalah peningkatan limbah plastik sekali pakai, terutama botol plastik dan kemasan rumah tangga berbahan PET. Limbah ini sulit terurai secara alami dan sering berakhir di tempat pembuangan akhir atau mencemari perairan.

Dampak dari permasalahan ini dirasakan oleh berbagai pihak, antara lain masyarakat di sekitar tempat pembuangan sampah, pemerintah daerah yang menanggung biaya pengelolaan tinggi, serta lingkungan hidup yang mengalami degradasi kualitas. Permasalahan ini menjadi penting karena volume limbah plastik terus meningkat, sementara teknologi pengolahan yang efisien dan terjangkau masih terbatas.

Dari sisi peluang, kondisi tersebut membuka kebutuhan akan solusi teknis berbasis rekayasa yang mampu mengolah limbah plastik menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi, khususnya pada skala komunitas dan UMKM.

Pengembangan Ide Solusi Berkelanjutan

Berdasarkan permasalahan tersebut, dikembangkan beberapa ide usaha sosial berbasis teknik, yaitu:

  1. EcoPress Brick
    Usaha sosial yang memanfaatkan limbah plastik sebagai bahan baku pembuatan paving block melalui proses pencetakan dan pemadatan berbasis teknologi sederhana.

  2. Smart Waste Shredder
    Pengembangan mesin pencacah plastik hemat energi yang dirancang khusus untuk kebutuhan komunitas pengelola sampah.

  3. PlasCycle Hub
    Sistem daur ulang terintegrasi berbasis teknologi digital untuk memantau alur limbah dan hasil produksi.

Dari ketiga ide tersebut, EcoPress Brick dipilih sebagai ide paling layak karena memiliki dampak lingkungan langsung, teknologi yang aplikatif, serta potensi pasar yang jelas di sektor konstruksi.

Tahap II: Perumusan Model Bisnis dan Keberlanjutan

Business Model Canvas (BMC)

Proposisi Nilai
EcoPress Brick menawarkan paving block ramah lingkungan yang dihasilkan dari limbah plastik daur ulang. Produk ini memiliki keunggulan tahan air, kuat, serta berkontribusi dalam mengurangi volume sampah plastik.

Segmen Pelanggan
Target pelanggan meliputi pemerintah daerah, kontraktor skala kecil, pengelola fasilitas publik, serta komunitas yang bergerak di bidang lingkungan.

Aktivitas Kunci
Aktivitas utama mencakup pengumpulan dan pemilahan limbah plastik, proses pencetakan paving block, serta pengujian kualitas produk.

Sumber Daya dan Mitra
Sumber daya utama berupa mesin pencetak hasil rekayasa teknik, tenaga kerja terlatih, serta bahan baku limbah plastik. Mitra kunci meliputi bank sampah, komunitas lingkungan, dan pemerintah daerah.

Integrasi Indikator Keberlanjutan

Dampak Lingkungan (Planet)
Usaha ini mampu mengurangi ratusan kilogram limbah plastik setiap bulan dan menggantikan sebagian material konstruksi konvensional dengan bahan daur ulang.

Dampak Sosial (People)
EcoPress Brick membuka lapangan kerja lokal, memberikan pelatihan teknis, serta memberdayakan komunitas pengelola sampah.

Dampak Ekonomi (Profit dan Governance)
Sebagian keuntungan dialokasikan kembali untuk program edukasi lingkungan, dengan sistem pengelolaan usaha yang transparan dan berbasis komunitas.


Tahap III: Analisis Kelayakan dan Rencana Aksi

Analisis Pasar dan Kompetitor

Permintaan terhadap material konstruksi ramah lingkungan menunjukkan tren meningkat seiring penerapan konsep pembangunan berkelanjutan. Kompetitor utama berasal dari paving block konvensional dan produk daur ulang impor. Keunggulan EcoPress Brick terletak pada harga yang lebih terjangkau, produksi lokal, serta nilai keberlanjutan yang tinggi.

Proyeksi Keuangan Sederhana

Biaya awal meliputi pembuatan mesin dan peralatan produksi serta biaya operasional awal. Produk dipasarkan dengan harga kompetitif, dengan estimasi titik impas dapat dicapai dalam waktu kurang dari satu tahun pada kondisi produksi stabil.

Rencana Implementasi Awal

Dalam 3–6 bulan pertama, kegiatan difokuskan pada pembuatan prototipe, uji coba produksi, kerja sama dengan bank sampah, serta pemasaran awal. Dampak sosial dan lingkungan diukur melalui volume limbah yang diolah, jumlah produk terjual, dan keterlibatan tenaga kerja lokal.

Penutup

Perencanaan ide usaha sosial EcoPress Brick menunjukkan bahwa bidang teknik memiliki peran strategis dalam menciptakan solusi berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan inovasi rekayasa, prinsip ekonomi sirkular, dan dampak sosial, usaha ini berpotensi menjadi model bisnis yang tidak hanya layak secara ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat.



kewirausahaan

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts